Minggu, 04 November 2012

Cairo Declaration on Human Rights in Islam,Aug. 5, 1990, U.N. GAOR, World Conf. on Hum. Rts., 4th Sess., Agenda Item 5, U.N. Doc. A/CONF.157/PC/62/Add.18 (1993) [English translation].


ARTICLE 1:
(a) All human beings form one family whose members are united by their subordination to Allah and descent from Adam. All men are equal in terms of basic human dignity and basic obligations and responsibilities, without any discrimination on the basis of race, colour, language, belief, sex, religion, political affiliation, social status or other considerations. The true religion is the guarantee for enhancing such dignity along the path to human integrity.
(b) All human beings are Allah's subjects, and the most loved by Him are those who are most beneficial to His subjects, and no one has superiority over another except on the basis of piety and good deeds.

ARTICLE 2:
(a) Life is a God-given gift and the right to life is guaranteed to every human being. It is the duty of individuals, societies and states to safeguard this right against any violation, and it is prohibited to take away life except for a shari'ah prescribed reason.
(b) It is forbidden to resort to any means which could result in the genocidal annihilation of mankind.
(c) The preservation of human life throughout the term of time willed by Allah is a duty prescribed by Shari'ah.
(d) Safety from bodily harm is a guaranteed right. It is the duty of the state to safeguard it, and it is prohibited to breach it without a Shari'ah-prescribed reason.

ARTICLE 3:
(a) In the event of the use of force and in case of armed conflict, it is not permissible to kill non-belligerents such as old men, women and children. The wounded and the sick shall have the right to medical treatment; and prisoners of war shall have the right to be fed, sheltered and clothed. It is prohibited to mutilate or dismember dead bodies. It is required to exchange prisoners of war and to arrange visits or reunions of families separated by circumstances of war.
(b) It is prohibited to cut down trees, to destroy crops or livestock, to destroy the enemy's civilian buildings and installations by shelling, blasting or any other means.

ARTICLE 4:
Every human being is entitled to human sanctity and the protection of one's good name and honour during one's life and after one's death. The state and the society shall protect one's body and burial place from desecration.

ARTICLE 5:
(a) The family is the foundation of society, and marriage is the basis of making a family. Men and women have the right to marriage, and no restrictions stemming from race, colour or nationality shall prevent them from exercising this right.
(b) The society and the State shall remove all obstacles to marriage and facilitate it, and shall protect the family and safeguard its welfare.

ARTICLE 6:
(a) Woman is equal to man in human dignity, and has her own rights to enjoy as well as duties to perform, and has her own civil entity and financial independence, and the right to retain her name and lineage.
(b) The husband is responsible for the maintenance and welfare of the family.

ARTICLE 7:
(a) As of the moment of birth, every child has rights due from the parents, the society and the state to be accorded proper nursing, education and material, hygienic and moral care. Both the fetus and the mother must be safeguarded and accorded special care.
(b) Parents and those in such like capacity have the right to choose the type of education they desire for their children, provided they take into consideration the interest and future of the children in accordance with ethical values and the principles of the Shari'ah.
(c) Both parents are entitled to certain rights from their children, and relatives are entitled to rights from their kin, in accordance with the tenets of the shari'ah.

Selasa, 16 Oktober 2012

ALMANAK


ALMANAK ISLAM 1434 H
MUHARRAM 1434 H

§   Ijtima’ akhir Dzul Hijjah 1433 H. pada hari Rabu, 14 November 2012, pukul 5:08 WIB.
§   Di Pelabuhanratu tinggi hilal waktu Maghrib 6° 29’ 57” dan jarak sudut Bulan-Matahari 6° 31’23”
§   Rabu, 14 November 2011, saat maghrib (malam Kamis) di wilayah Indonesia hilal sudah imkanur ru’yah,      maka 1 Muharram 1434 H. ditetapkan Kamis, 15 Nopember 2012 M.

 SHOFAR 1434 H

§  Ijtima’ akhir Muharram 1434 H. pada hari Kamis, 13 Desember 2012, pukul 15:42 WIB.
§  Di Pelabuhanratu tinggi hilal waktu Maghrib 0° 11’ 48” dan jarak sudut Bulan-Matahari 2° 31’ 27”
§  Kamis, 13 Desember 2012, saat maghrib (malam Jum’at) di wilayah Indonesia hilal  belumimkanur ru’yah,     maka bulan Muharam digenapkan 30 hari (istikmal) dan1 Shofar 1434 Hditetapkan Sabtu, 15 Desember     2012 M.

ROBI’UL AWWAL 1434 H
§  Ijtima’ akhir Shofar 1434 H. pada hari Sabtu, 12 Januari 2013, pukul 2:44 WIB.
§  Di Pelabuhanratu tinggi hilal waktu Maghrib 6° 08’ 25” dan jarak sudut Bulan-Matahari 9° 26’ 45”
§  Sabtu, 12 Januari 2013, saat maghrib (malam Ahad) di wilayah Indonesia hilal sudah imkanur ru’yah,        
    maka 1 Robi’ul Awwal 1434 H. ditetapkan Ahad, 13 Januari 2013 M.

ROBI’UTS TSANI 1434 H
§  Ijtima’ akhir Robi’ul Awwal 1434 H. pada hari Ahad, 10 Februari 2013, pukul 14:20 WIB.
§  Di Pelabuhanratu tinggi hilal waktu Maghrib -0° 13’ 33” dan jarak sudut Bulan-Matahari 5° 35’ 27”
§  Ahad, 10 Februari 2013, saat maghrib (malam Senin) di wilayah Indonesia hilal belumimkanur ru’kyah,         maka bulan Rabi’ul awwal 1434 digenapkan 30 hari (istikmal) dan1 Robi’uts Tsani 1434 H. ditetapkan,       Selasa 12 Februari 2013 M.

JUMAADIL ULA 1434 H

§  Ijtima’ akhir Robi’uts Tsani 1434 H. pada hari Selasa, 12 Maret 2013, pukul 2:51 WIB.
§  Di Sabang tinggi hilal waktu Maghrib 5° 46’ 17” dan jarak sudut Bulan-Matahari 8° 23’ 33”
§  Selasa, 12 Maret 2013, saat maghrib (malam Rabu) di wilayah Indonesia hilal sudah imkanur ru’yah, maka 1 Jumadil Ula 1434 H. ditetapkan Rabu, 13 Maret 2013 M.

JUMAADITS TSANIYAH 1434 H
§  Ijtima’ akhir Jumadil Ula 1434 H. pada hari Rabu, 10 April 2013, pukul 16:35 WIB.
§  Di Pelabuhanratu tinggi hilal waktu Maghrib -01° 27’ 20” dan jarak sudut Bulan-Matahari 2° 42’ 51”
§  Rabu, 10 April 2013, saat maghrib (malam Kamis) di seluruh wilayah Indonesia hilal belumimkanur ru’yah, maka bulan Jumadil Ula 1434 digenapkan 30 hari (istikmal) dan 1 Jumadits Tsaniyah 1434 H. ditetapkan Jum’at, 12 April 2013 M.



GERHANA BULAN SEBAGIAN

         Insya Allah akan terjadi Gerhana Bulan Sebagian pada hari Jum’at, 26 April 2013 M.

                                Kontak awal gerhana      = 2:52:24 WIB

                                Pertengahan gerhana    = 3:07:24 WIB

                                Kontak akhir gerhana     = 3:22:18 WIB

                Gerhana ini terlihat di seluruh wilayah Indonesia dengan piringan bulan yang tertutup bayangan inti bumi sekitar 1,5 %


                GERHANA MATAHARI CINCIN

                Insya Allah akan terjadi Gerhana Matahari Cincin pada hari Jum’at, 10 Mei 2013 M.

§   Daerah yang terkena gerhana: Seluruh wilayah Indonesia kecuali NAD, Sumut, Sumbar dan Riau

§   Bentuk dan prosentase gerhana: Terlihat sebagai gerhana matahari sebagian dengan permukaan matahari yang tertutup bulan antara 19% s/d 70%

§   Durasi gerhana: Dari sekitar pukul 4:30 s/d 6:30 WIB (5:30 s/d 7:30 WITA) terlihat dari saat matahari terbit, kecuali untuk wilayah Maluku dan Papua mulai tejadi sekitar pukul 6:40 WIT sampai sekitar pukul 9:00 WIT.

ROJAB 1434 H
§  Ijtima’ akhir Jumadits Tsaniyah 1434 H. pada hari Jum’at, 10 Mei 2013, pukul 7:28 WIB.
§  Di Pelabuhanratutinggi hilal waktu Maghrib 3° 45’ 11” dan jarak sudut Bulan-Matahari 3° 56’ 31”
§  Jum’at, 10 Mei 2013, saat maghrib (malam Sabtu) di wilayah Indonesia hilal belumimkanur ru’yah, maka bulan Jumadits Tsaniyah 1434 digenapkan 30 hari (istikmal) dan1 Rojab 1434 H. ditetapkan Ahad, 12 Mei 2013 M.
§  Bayang-bayang mengarah kiblat terjadi pada tanggal 28 Mei 2013, pukul 16:18 WIB.

SYA’BAN 1434 H
§   Ijtima’ akhir Rojab 1434 H. pada hari Sabtu, 8 Juni 2013, pukul 22:56 WIB.

§   Di Pelabuhanratu saat mahrib setelah ijtima tinggi hilal +08° 08’ 57” dan jarak sudut Bulan-Matahari 08° 17’ 54”

§   Saat maghrib setelah ijtima yaitu Ahad, 9 Juni 2013, (malam Senin), di wilayah Indonesia hilal sudahimkaur ru’yah, maka 1 Sya’ban 1434 H. ditetapkan Senin, 10 Juni 2013 M.
ROMADHAN 1434 H

§   Ijtima’ akhir Sya’ban 1434 H. pada hari Senin, 8 Juli 2013, pukul 14:14 WIB.

§   Di Pelabuhanratu tinggi hilal waktu Maghrib 0° 45’ 58” dan jarak sudut Bulan-Matahari 4° 34’ 24”

§   Senin, 8 Juli 2013, Saat maghrib (malam Selasa) di wilayah Indonesia hilalbelumimkanur ru’yah, maka bulan Sya’ban 1434 digenapkan 30 hari (istikmal) dan1 Romadhan 1434 H. ditetapkan Rabu, 10 Juli 2013 M.

§   Bayang-bayang mengarah kiblat terjadi pada tanggal 16 Juli 2013, pukul 16:27 WIB.
SYAWWAL 1434 H

§  Ijtima’ akhir Romadhan 1434 H. pada hari Rabu, 7 Agustus 2013, pukul 4:51 WIB.

§  Di Pelabuhanratu tinggi hilal waktu Maghrib 4° 15’ 49” dan jarak sudut Bulan-Matahari 7° 18’ 48”

§  Rabu, 7 Agustus 2013, saat maghrib (malam Kamis) di wilayah Indonesia hilal sudahimkanur ru’yah, maka 1 Syawwal 1433 H. ditetapkan Kamis, 8 Agustus 2013 M.
DZUL QO’DAH 1434 H

§  Ijtima’ akhir Syawwal 1434 H. pada hari Kamis, 5 September 2013, pukul 18:36 WIB.

§  Di Pelabuhanratu saat mahrib setelah ijtima tinggi hilal +09° 09’ 28” dan jarak sudut Bulan-Matahari 11° 14’ 58”

§  Saat maghrib setelah ijtima yaitu Jum’at, 6 September 2013(malam Sabtu), di wilayah Indonesia hilal sudahimkanur ru’yah, maka 1 Dzul Qo’dah 1433 H. ditetapkan Sabtu, 7 September 2013 M.
DZUL HIJJAH 1434 H

§  Ijtima’ akhir Dzul Qo’dah 1434 H. pada hari Sabtu, 5 Oktober 2013, pukul 7:34 WIB.

§  Di Pelabuhanratu tinggi hilal waktu Maghrib 3° 39’ 48” dan jarak sudut Bulan-Matahari 4° 51’ 28”

§  Sabtu, 5 Oktober 2013, saat maghrib (malam Ahad) di wilayah Indonesia hilal belumimkanur ru’yah, maka bulan Dzul Qo’dah 1434 digenapkan 30 hari (istikmal) dan 1 Dzul Hijjah 1434 H. ditetapkan Senin, 7 Oktober 2013 M.
MUHARRAM 1435 H

§   Ijtima’ akhir Dzul Hijjah 1434 H. pada hari Ahad, 3 November 2013, pukul 19:50 WIB.

§   Di Pelabuhanratu saat magrib setelah ijtima (Senin malam selasa) tinggi hilal +11° 15’ 54” dan jarak sudut Bulan-Matahari 11° 17’ 04”

§   saat maghrib setelah ijtima Senin, 4November 2013, (malam Selasa) di wilayahIndonesia hilal sudah imkanur ru’yah, maka 1 Muharram 1435 H. ditetapkan Selasa, 5November 2013 M.

Jumat, 02 Maret 2012

HIDUP MENJADI BERKAH


HIDUP MENJADI BERKAH

Pengertian Berkah ( Al-Barakah )
Al-barakah, kata yang kemudian diterjemahkan menjadi berkah itu, bermula dari image tentang unta yang mendekam. Orang Arab dahulu sering mengatakan ba-ra-ka al-ba’îr, unta itu mendekam. Biasanya, ketika unta kekenyangan setelah menghabiskan makanannya, ia segera menekuk lututnya untuk kemudian mendekam dalam waktu yang lama. Atau ketika merasa badannya terlalu panas oleh sengatan matahari, ia pun segera turun ke air, dan mendekam di sana. Unta itu menetap di sana.
Image ini lalu berkembang, dan setiap sesuatu yang “mendekam” dan “menetap” diungkapkanlah dengan kata ba-ra-ka. Maka, tak heran jika al-barakah suka didefinisikan khairât tsâbitah, nikmat yang “menetap”. Keuntungan hasil perdagangan adalah sebuah nikmat, tapi dia tidak dikatakan berkah jika tidak “menetap” di sana. Jika muncul lalu hilang, itu berarti tidak berkah. Al-Zarqâni dalam syarahnya atas Muwaththa’ Imam Malik, dan juga banyak ulama lain, sering  menerangkan bahwa al-barakah berarti al-tsubût wa al-luzûm, menetap-di-sana, ada dan berlama-lama di sana.
Arti lain dari Al-Barakah
Para ulama banyak mendefinisikan makna  al-barakah dengan kata yang berbeda, tetapi memiliki kesamaan hakekat. Diantaranya:
  • Al-barakah di definisikan dengan makna khairât tsâbitah, nikmat yang “menetap”
  • AlZarqani Al-Zarqâni dalam syarahnya atas Muwaththa’ menyebutkan al-barakah adalah al-tsubût wa al-luzûm, artinya menetap-di-sana, ada dan berlama-lama di sana
  • Ada juga yang menyebutnya dengan al-numuw wa al-ziyâdah, bertumbuh dan bertambah.
  • Ibnu Abbas menjelaskan al-barakah sebagai al-katsrah fi kulli khair, kemelimpahruahan yang ada pada tiap nikmat baik.
  • Al-Zarqâni juga mengutip pandangan ulama-ulama bahwa ­al-barakah adalah al-ziyâdah min al-khair wa al-karâmah, kenikmatan dan kemurahan yang bertambah-tambah.
Al-Quran sendiri ketika mau menggambarkan sebuah nikmat Ilahi yang banyak, juga memakai kata ba-ra-ka. Dalam al-Isrâ’ (17): 1, misalnya, disebutkan, “… al-masjidi al-aqshâ al-ladzî bârakna haulahu … ”, Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya. Gambaran tentang Palestina yang mendapat nikmat karena nabi-nabi diturunkan di sana, dan sekaligus bertanah subur, disampaikan dengan kalimat “yang telah Kami berkati”.
Begitu juga saat menggambarkan tanah Syam yang subur, berkah menjadi bahasa-penyampai. Dalam al-Anbiya’ (21): 71 tercatat, “ … al-ardhi al-latî bârakna fîhâ … ”, sebuah negeri yang Kami berkati, untuk menunjuk Syam. Tentang Syam ini juga direkam dalam Saba’ (34): 18 dengan bahasa, “ … al-qurâ al-ladzî bâraknâ … ”, negeri-negeri yang telah Kami limpahkan berkah padanya.
Dan gambaran-gambaran semacam ini tanpa kita sadari telah membentuk pikiran kita tentang berkah, bahwa berkah adalah sebuah nikmat berlimpah yang murni dari Allah, tak tersentuh kotoran manusia. Allahumma bârik lanâ fîmâ razaqtanâ … , ya Allah berilah berkah pada rezeki kami …. Berkah selalu memenuhi sudut-sudut kata dalam doa-doa kita
Kiat Menjadikan Hidup Berkah
Setiap manusia tentu mendambakan kehidupan penuh berkah. Karena itu tidak heran, jika kita dapati banyak manusia rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa demi mendapatkan berkah. Dan mereka sangat berharap, jika kesempatan dan umurnya ditambah, merasa sangat gembira ketika rizqinya dilapangkan, memiliki keturunan banyak, dan hal-hal lain yang berupa kesenangan dan kenikmatan yang diinginkan oleh hati manusia. Menurut mereka hal-hal demikianlah yang akan mendatangkan kebahagiaan. Sudah seyogyanya seorang muslim senantiasa berdo’a kepada Allah subhanahu wata’aala agar melimpahkan keberkahan kepadanya. Hal inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam; sebagai qudwah hasanah (suri tauladan) bagi kita. Beliau memohon keberkahan kepada Allah subhanahu wata`ala dalam segala urusan.
Berkah adalah menetapnya kebaikan (dari Allah subhanahu wata’aala) di dalam sesuatu. Apabila berkah terdapat pada sesuatu yang sedikit, niscaya ia akan berkembang menjadi banyak, sedangkan apabila berkah tersebut terdapat pada sesuatu yang banyak, maka niscaya ia akan semakin bermanfaat. Dan di antara buah yang paling agung dari berkah dalam beraneka ragam nikmat yang Allah subhanahu wata’aala karuniakan adalah dipergunakannya nikmat-nikmat tersebut untuk keta`atan kepada Allah subhanahu wata’aala.
Keberkahan yang di berikan Allah subhanahu wata’aala juga bisa berupa kendaraan yang kondisinya selalu prima, walaupun sudah tua umurnya, jarang rusak atau mogok; Merasakan ketenangan walaupun tidak mempunyai harta yang banyak; Memiliki seorang putri sematawa yang yang senantiasa membantu dan mematuhi perintahnya; dikaruniai banyak cucu yang menjadi penyejuk mata baginya. Selain itu ada pula berupa waktu, sehingga ia dengan mudah memanfaatkan seluruh waktunya dalam rangka ibadah dan ta’at kepada Allah dan memberikan manfaat kepada orang lain, dan lain-lain. Tentunya kita selalu berdo’a kepada Allah subhanahu wata’aala agar dijauhkan dari hidup yang tidak berkah. Karena banyak pula manusia yang hartanya milyaran rupiah/dolar, tetapi diperbudak oleh hartanya tersebut. Banting tulang bekerja dari pagi hingga larut malam, bahkan sampai tidak tidur malam, karena sibuk menghitung uang dan terus-menerus memikirkan bisnis yang lebih menguntungkan. Ada juga kita dapati seseorang memiliki anak banyak, tetapi semuanya menjadi musuh bagi dirinya, durhaka kepadanya, membuat malu dirinya karena ulah dan prilakunya yang sangat buruk. Ada pula yang tidak pernah puas dengan apa yang ia dapatkan, seolah-olah tujuan hidupnya hanya untuk mengumpulkan dunia. Na’udzu billahi min dzalik!
Lalu bagaimana berkah dalam hidup itu bisa kita capai? Kiat-kiat di bawah ini merupakan solusi dan jawaban dari pertanyaan tersebut, sebagai berikut:
  • Bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’aala.
Taqwa merupakan kunci seluruh kebaikan. Allah subhanahu wata’aala berfirman:
Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. QS. Al-A`raf :96)
Allah subhanahu wata’aala juga berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-thalaq :2-3). Maksudnya dari sisi yang tidak pernah ia perkirakan.
Dan “Taqwa” menurut para ulama adalah ‘engkau melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’aala berdasarka ilmu dari Allah subhanahu wata’aala, semata-mata mengharap pahalaNya; dan engkau tidak bermaksiat kepadaNya karena engkau takut terhadap adzabNya.’
Maka jika engkau bertakwa berarti engkau telah mengumpulkan dua hal, yaitu perintah dan larangan. Engkau melaksanakan perintah berdasarkan ilmu dan meninggalkan maksiat berdasarkan ilmu,serta engkau betul-betul mengharapkan pahala Allah subhanahu wata’aala atas pelaksanaan perintah-perintahNya tersebut dan engkau sangat takut akan adzab Allah subhanahu wata’aala ;sehingga meningalkan larangan-larangan-Nya.
  • Membaca Al-Qur`an.
Sungguh Al-Qur`an merupakan kitab yang penuh berkah, obat dan penawar bagi seluruh penyakit hati dan jasad. Allah subhanahu wata’aala; berfirman:
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”. (QS. Shaad: 29).
Dan amal yang shalih merupakan sarana untuk meraih sebuah kebaikan dan berkah.
  • Berdo’a.
Nabi shallallahu ‘alahi wasallam senantiasa memohon berkah kepada Allah subhanahu wata’aala dalam berbagai urusan.
  • Jujur dalam bermu’amalah.
Baik dalam jual beli, sewa-menyewa ataupun transaksi lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Penjual dan pembeli masih memiliki hak memilih selama keduanya belum berpisah (dari tempat transaksi). Jika keduanya jujur dan terbuka (menjelaskan jika ada cacat/kekurangan), maka keduanya diberkahi dalam jual beli mereka dan jika keduanya menutup-nutupi dan berdusta, maka lenyaplah berkah jual beli mereka.” (HR. Al-Bukhari)
  • Menyelesaikan pekerjaan di waktu pagi.
Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam; bersabda, “Semoga Allah subhanahu wata’aala memberkahi ummatku pada waktu pagi mereka”. (HR. Ahmad)
  • Mengikuti sunnah Rasul shallallahu ‘alahi wasallam dalam setiap urusan.
Karena hal itu tidaklah mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan. Dari Jabir bin Abdullah radhiallhu `anhu berkata, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam memerintahkan agar menjilati jari-jemari dan piring, dan beliau berkata, “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di bagian mana terdapat berkah dari makanan kalian.” (HR. Muslim)
  • Kesungguhan dalam bertawakkal kepada Allah subhanahu wata’aala.
Allah subhanahu wata’aala; berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُه
“Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS Ath-Thalaq: 3).
Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam juga bersabda, “Kalaulah kalian bertawakkal kepada Allah subhanahu wata’aala; dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah subhanahu wata’aala memberikan rizqi kepada kalian sebagaimana Allah subhanahu wata’aala memberikan rizqi kepada burung, keluar di pagi hari dalam keadaan lapar pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad).
  • Melakukan shalat istikharah dalam setiap urusan.
Pasrah dan menerima apa yang telah Allah subhanahu wata’aala tentukan, karena hal tersebut pasti lebih baik untuk dirinya di dunia ataupun akhirat.
  • Tidak meminta-minta kepada orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Siapa saja yang memiliki kebutuhan, lalu ia melimpahkan kebutuhannya tersebut kepada orang lain, maka yang lebih pantas adalah tidak dimudahkan kebutuhannya dan barangsiapa yang memasrahkan kebutuhannya kepada Allah subhanahu wata’aala; niscaya Dia akan mendatangkan kepadanya rizqi dengan segera atau menunda kematiannya.” (HR. Ahmad)
  • Berinfaq dan bersedekah.
Karena keduanya merupakan sarana untuk memperoleh rizqi yang lebih baik yang merupakan karunia Allah subhanahu wata’aala kepadanya. Allah subhanahu wata’aala berfirman:
Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (QS. Saba`: 39)
Di dalam hadits qudsi disebutkan, Allah subhanahu wata’aala berfirman, “Wahai anak Adam berinfaqlah, niscaya Aku akan menafkahimu”. (HR. Muslim)
  • Menjauhkan diri dari harta yang haram
Karena harta haram dalam berbagai bentuk dan rupanya tidaklah membawa berkah sedikit pun dan tidak pula menjadikannya langgeng atau awet. Ayat yang menyatakan tentang hal ini sangatlah banyak, di antaranya firman Allah subhanahu wata’aala:
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah”. (QS. Al-Baqarah: 276),
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa maksud ‘memusnahkan riba’ adalah memusnahkan harta tersebut dari pemiliknya secara keseluruhan atau meniadakan berkah harta tersebut, tidak bermanfaat bahkan menjadikan pemiliknya diadzab, baik di dunia ataupun di akhirat. Sedangkan makna ‘menyuburkan sedekah’ adalah memperbanyak harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipatgandakan berkahnya.
  • Bersyukur dan memuji Allah subhanahu wata’aala atas segala pemberian dan nikmat-nikmatNya.
Allah subhanahu wata’aala berfirman, artinya, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu”. (QS. Ibrahim: 7)
  • Menunaikan shalat fardhu,
Allah subhanahu wata’aala; berfirman:
      “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizqi kepadamu. Kamilah yang memberi rezqi kepadamu dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa”. (QS. Thaaha : 132)
  • Terus-menerus beristighfar (memohon ampun kepada Allah subhanahu wata’aala).
Allah subhanahu wata’aala; berfirman:
aka aku katakan kepada mereka, ‘Beristighfarlah (mohonlah ampun) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun, niscaya Dia akan mengirimkam hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (QS. Nuh : 10-12)

* Sumber : disadur dari risalah “Al-Barakah” , Abdul Malik al-Qosim
“SUDAHLAH! Jangan ngoyo, kita nggak akan berhasil!” Kata-kata seperti ini mungkin pernah kita dengar pada saat orang atau kelompok orang menyusun rencana dan target kerja.
Ada dua kemungkinan mengapa kata-kata ini keluar dari mulut seseorang. Pertama, rencana yang dibuat memang tak realistis. Kedua, ada orang yang selalu memandang berat setiap masalah. Alasan kedua inilah yang biasa disebut sebagai sikap pesimis.

Sikap pesimis merupakan halangan utama bagi seseorang untuk menerima tantangan. Orang yang telah terjangkiti virus pesimis selalu merasa hidupnya penuh dengan kesulitan. Ia selalu berada dalam ketidakberdayaan menghadapi masa depan.
Penyakit pesimis dapat terbangun akibat proses pendidikan yang kurang baik: bisa dari masa kecil atau akibat peristiwa sesaat yang sangat menyakitkan. Penyebab pertama, biasanya akan lebih sulit diperbaiki, karena pesimisme telah menyatu dalam kepribadian orang tersebut. Mereka memiliki konsep diri yang kurang baik dan memiliki pandangan yang buram terhadap kehidupan dan masa depan nya. Sedang pesimisme yang terjangkit akibat pengalaman pahit, lebih mudah diatasi sejauh orang tersebut dapat menata kembali target dan langkah-langkahnya dalam mencapai target tersebut.
Berikut beberapa-hal yang dapat menumbuhkan perasaan pesimistis dalam diri seseorang:
1. Terlalu sering dibantu. Anak yang tumbuh dalam suasana sering dibantu seringkali tak dapat mengenali kemampuannya. Ia akan sering mengatakan, “Saya tak bisa.” Ini terjadi karena anak tak dibiarkan menghadapi kesulitan sedikitpun. Ketika si anak mengeluh tentang sulitnya ‘PR’ dari sekolah, orang tua lantas mengambil alih PR tersebut. Ketika anak menghadapi masalah dengan mainannya, orang tua segera mengatasi masalah tersebut. Dalam jangka panjang, anak ini akan tumbuh sebagai orang yang merasa tak mampu menghadapi kesulitan. Ia akan selalu mengharapkan bantuan orang lain dalam mengatasi masalah-masalahnya. Manakala bantuan itu tak ia peroleh, ia pun merasa tak dapat berbuat apa apa.
2. Terlalu sering dilecehkan. Orang yang dalam masa pertumbuhannya seringkali dilecehkan akan menganggap dirinya menjadi orang terbodoh se-dunia. Keadaan ini tentu membuatnya memandang buram potret diri dan masa depannya. Ia juga akan merasa tak mampu mengatasi persoalannya sendiri.
3. Sikap negatif terhadap kegagalan. Kalau kita lihat dalam keseharian, ada orang yang merasa selalu ditimpa kegagalan. Pada kenyataanya, tak ada seorang pun di dunia ini yang selalu gagal dan tak pernah berhasil. Masalahnya adalah bagaimana ia menyikapi kegagalan. Ada orang yang merasa begitu hancur ketika ditimpa kegagalan. Kegagalan  menjadi peristiwa yang amat besar dalam hidupnya, sebab keberhasilan tak pernah ia syukuri sedikitpun. Akibatnya, ia merasa sebagai pecundang, bodoh dan tak punya masa depan.
4. Dampak optimisme berlebihan. Optimisme berlebihan seringkali menyisakan pengalaman pahit dalam diri seseorang. Pengalaman ini membuat orang tak lagi bergairah membicarakan target-target yang telah gagal itu. Orang seperti ini menghadapi trauma untuk membicarakan hal tersebut. Keadaan seperti ini tentu akan menyulitkan bagi orang tersebut untuk bangkit dari kegagalan. Ia akan lebih tertarik untuk membicarakan dan memulai hal-hal baru daripada mengulang kembali pengalaman pahit tersebut.

Pesimisme, baik yang dialami oleh individu maupun kelompok, memang harus diatasi. Namun, dibutuhkan keteguhan dalam membatasi masalah kejiwaan yang satu ini, karena pesimisme terbangun dari pengalaman dan kita tak bisa mengubah hal-hal yang telah terjadi. Ada bebarapa hal yang mungkin dilakukan untuk membangun kembali optimisme kita:
1. Temukan hal-hal positif dari pengalaman masa lalu, sepahit apapun pengalaman itu. Dalam kegagalan, sekalipun masih ada keberhasilan-keberhasilan kecil yang terselip, cobalah temukan keberhasilan itu dan syukuri keberadaannya. Upaya ini paling tidak akan mengobati sebagian dari perasaan hancur yang kita derita. “Tapi bagaimanapun saya telah gagal” Buang jauh-jauh pikiran tersebut, karena pikiran tersebut tak akan membantu kita dalam meraih nikmat Allah berikutnya. Allah hanya akan menambahkan nikmatNya pada orang yang mau mensyukuri pemberianNya meskipun nikmat itu sedikit.
2. Tata kembali target yang ingin kita capai. Jangan terbiasa membuat target yang berlebihan. Kita memang harus optimis, tapi kita perlu juga mengukur kemampuan diri sendiri. Kita juga perlu menelaah lebih jeli cara apa yang mungkin kita lakukan untuk mencapai target tertentu. Cara Irak menghadapi agresor/penjajah AS mungkin dapat dijadikan contoh. Dari awal Irak tak mengatakan akan menang dalam pertempuran. Tapi mereka hanya mengatakan “AS akan menghadapi kesulitan jika berhadapan dengan tentara dan perlawanan rakyat Irak.” Irak pun menghitung-hitung dalam medan mana ia dapat memberikan perlawanan yang sengit terhadap para agresor/penjajah tersebut. Mungkin Irak berusaha memenangkan pertempuran di medan opini dunia dan jalur diplomatik. Ini adalah satu contoh bagaimana sebaiknya menetapkan target dengan melihat kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki.
3. Pecah target besar menjadi target-target kecil yang dapat segera dilihat keberhasilannya. Seringkali ada manfaatnya untuk melihat keberhasilan-keberhasilan jangka pendek dari sebuah target jangka panjang. Hal ini akan semakin menumbuhkan semangat dan optimisme dalam diri kita. Tentu kita harus terus mensyukuri apa yang kita peroleh dari capaian target-target kecil tersebut. Jangan pernah terbetik dalam hati, “Ah baru segini, target kita masih jauh.” Sikap ini sama sekali tak membangun rasa optimis.
4. Bertawakal kepada Allah. Menyadari adanya satu kekuatan yang dapat menolong kita di saat kita menghadapi rintangan merupakan modal dasar yang cukup ampuh dalam membangun optimisme. Bertawakal tentu harus dilakukan bersamaan dengan upaya kita memperbaiki target dan strategi pencapaiannya.
5. Langkah terakhir kita perlu merubah pandangan kita terhadap diri sendiri dan kegagalan. Kita perlu lebih sayang dan menghargai diri sendiri. Jangan kita terus menerus mengejek diri sendiri. “Aku ini orang bodoh, tak bisa apa apa.” Ini bukanlah sikap merendah, tapi merupakan sikap ingkar terhadap kelebihan yang telah Allah karunikan kepada kita. Wallahu’alam