Rabu, 15 Februari 2012

Kisi-kisi

1. Barang siapa yang bersungguh - sungguh pasti ia akan berhasil

2. semangat

3. Rajin

4. Tidak putus asa

5. Ulet

Kamis, 24 November 2011

UJIAN AKHIR DINIYAH KELAS VI ( PRAKTEK DAN LISAN )

ASSALAAMU'ALAIKUM WR.WB.

PENGUMUMAN BUAT ANAK-ANAKKU KELAS VI ANGKATAN XIV
PELAKSANAAN UJIAN AKHIR DINIYAH ( PRAKTEK DAN LISAN ) INSYA ALLAH AKAN DILAKSANAKAN PADA BULAN DESEMBER 2012 MINGGU KE 2.....DENGAN MATERI:                
1. IBADAH : TAYAMUM, WUDHU, SHALAT,DZIKIR DAN PENGURUSAN JENAZAH
2. ALQUR'AN : TADARUS,TAJWID DAN HAFALAN MULAI DARI SURAT ANNABA S.D AN-NAS + AL MURSALAT,Al MULK,AL HAAQQAH, AL INSAAN DAN AL QIYAMAH (SMSTR 2)

ANAK-ANAKKU MOHON DIPERSIAPKAN YAH.....DAN GUNAKAN WAKTU LUANGMU UNTUK PRESTASIMU DIKELAS VI, BAPAK DO'AKAN SEMOGA BERHASIL DAN ALLAH SWT MEMBERIKAN KEMUDAHAN KEPADA KITA SEMUA....AMIIIN.

KALAU ADA PERUBAHAN INSYA ALLAH MENYUSUL....

Selasa, 27 September 2011

MID SEMESTER DAN UJIAN PRAKTEK

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM....

PENGUMUMAN MID SEMESTER
1. MATERI YANG DITESKAN :  PAI BAB 1 S.D IV
                                                   :  SURAT 'ABASA DARI AWAL SAMPAI AKHIR
2. BUKU CATATAN IBADAH   : DIKUMPULKAN PALING TELAT HARI SABTU TANGGAL 1        
                                                     OKTOBER 2011


UJIAN PRAKTEK
UJIAN PRAKTEK INSYAALLAH BULAN DESMBER 2011
MATERI YANG DITES  :  AL QUR'AN DAN IBADAH
AL QUR'AN                   : JUZ 30
IBADAH                         :  WUDHU S.D DZIKIR  DAN DAURAH JENAZAH

KALAU ADA PERUBAHAN INFORMASI   MANYUSUL

WASSALAAM

Kamis, 25 Agustus 2011

THR KELAS 6 A,B,C,D DAN E

BISMILILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM


1. MEMBACA AL QUR'AN SETIAP HARI MNIMAL 2 X SEHARI
2. SHALAT WAJIB 5 WAKTU DENGAN SHALAT RAWATIBYA
3. MENGERJAKAN AMALAN SHALEH ( CONTOH MEMBANTU ORTU: MENCUCI, MASAK DLL)
4. MENGHAFAL AL QUR'AN DARI AN-NAS S.D 'ABASA ( TGL 14 ULANGAN /SETOR)
5. BUATLAH SEBUAH RINGKASAN PENGALAMAN KALIAN TENTANG SHAUM DI BULAN RAMADHAN TAHUN 1432 H. DARI AWAL SAMPAI AKHIR ISINYA: TARAWIH, SAHUR, I'TIKAF. IFTHAR JAMA'I ( BUKBER ). TULIS DI KERTAS HVS ATAU DI EMAILKAN KE kangsyihab@gmail.com  MINIMAL 3 HALAMAN.

POIN 1S.D 4 TULIS DI BUKU CATATAN AMAL IBADAH

INGAT ALLAH MAHA MELIHAT......
DAN SETIAP KEBOHONGAN MAKA TIDAK AKAN MENDATANGKAN KEBAIKAN....

LIBURANYA......JGN LUPA SHALAT DAN OLE2.....HEHEHEHE.....

Senin, 30 Mei 2011

CARA MENGHAFAL AL - QUR'AN




I. Sistem Fardhi
Ikuti langkah berikut dengan baik:
  1. Tenang dan tersenyumlah, jangan tegang
  2. Bacalah ayat yang akan dihafal hingga terbayang dengan jelas kedalam pikiran dan hati
  3. Hafalkan ayat tersebut dengan menghafalkan bentuk tulisan huruf-huruf dan tempat-tempatnya
  4. Setelah itu pejamkan kedua mata dan
  5. Bacalah dengan suara pelan lagi konsentrasi (posisi mata tetap terpejam dan santai)
  6. Kemudian baca ayat tersebut dengan suara keras (posisimata tetap terpejam dan jangan tergesa-gesa)
  7. Ulangi sampai 3x atau sampai benar-benar hafal
  8. Beri tanda pada kalimat yang dianggap sulit dan bermasalah (garis bawah/distabilo)
  9. Jangan pindah kepada hafalan baru sebelum hafalan lama sudah menjadi kuat
Penggabungan ayat-ayat yang sudah dihafal
Setelah anda hafal ayat pertama dan kedua jangan pindah kepada ayat ketiga akan tetapi harus digabungkan terlebih dahulu antara keduanya dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini :
  1. Bacalah ayat pertama dan kedua sekaligus dengan suara pelan lagi konsentrasi
  2. Kemudian bacalah keduanya dengan suara keras lagi konsentrasi dan tenang
  3. Ulangi kedua ayat tersebut minimal 3x sehingga hafalan benar-benar kuat. Begitulah seterusnya, pada tiap-iap dua tambahan ayat baru harus digabungkan dengan ayat sebelumnya sehingga terjadi kesinambungan hafalan
  4. Mengulang dari ayat belakang ke depan. Dan dari depan ke belakang
  5. Semuanya dibaca dengan suara hati terlebih dahulu kemudian dengan suara keras (mata dalam keadaan tertutup)
  6. Begitu seterusnya. Setiap mendapatkan hafalan baru, harus digabungkan dengan ayat/halaman/juz sebelumya.
II. Sistem Jama’i
Sistem ini menggunakan metode baca bersama, yaitu dua/tiga orang (partnernya) membaca hafalan bersama-sama secara jahri (keras) dengan:
  • Bersama-sama baca keras
  • Bergantian membaca ayat-an dengan jahri. Keika partnernya membaca jahr dia harus membaca khafi (pelan) begitulah seterusnya dengan gantian.
Sistem ini dalam satu majlis diikuti oleh maksimal 12 peserta, dan minimal 2 peserta. Settingannya sebagai berikut:
A. Persiapan :
1.      Peserta mengambil tempat duduk mengitari ustadz/ustadzah
2.      Ustadz/ustadzah menetapkan partner bagi masing-masing peserta
3.      Masing-masing pasangan menghafalkan bersama partnernya sayat baru dan lama sesuai dengan instruksi ustad/ustadzah
4.      Setiap pasangan maju bergiliran menghadap ustad/ustadzah untuk setor halaman baru dan muroja’ah hafalan lama
B. Setoran ke ustadz / ustadzah :
1. Muroja’ah: 5 halaman dibaca dengan sistem syst-an (sistem gantian). Muroja’ah dimulai dari halaman belakang (halaman baru) kearah halaman lama
2. Setor hafalan baru:
·         Membaca seluruh ayat-ayat yang baru dihafal secara bersama-sama
·         Bergiliran baca (ayatan) dengan dua putaran. Putaran pertama dimulai dari yang duduk disebelah kanan dan putaran kedua dimulai dari sebelah kiri.
·         Membaca bersama-sama lagi, hafalan baru yang telah dibaca secara bergantian tadi.
3. Muroja’ah tes juz 1, dengan sistem acakan (2-3x soal). Dibaca bergiliran oleh masing-masing pasangan.

Ketika peserta sendirian tidak punya partner, atau partnernya sedang berhalangan hadir, maka ustad wajibmenggabungkannya dengan kelompok lain yang kebetulan juz, halaman dan urutannya sama, jika hafalannya tidak sama dengan kelompok lain maka ustad hendaknya menunjuk salah seorang peserta yang berkemampuan untuk suka rela menemani.
C. Muroja’ah ditempat :
1.      Kembali ketempat semula.
2.      Mengulang bersama-sama seluruh bacaan yang disetorkan baik muroja’ah maupun hafalan baru, dengan sistem yang sama dengan setoran
3.      Menambah hafalan baru bersama-sama untuk disetorkan pada pertemuan berikutnya
4.      Jangan tinggalkan majlis sebelum mendapat izin ustadz/ustadzah.

Minggu, 01 Mei 2011

" MENGHAFAL AL QUR'AN "

Keutamaan Menghafal Al Qur’an

Mengenai keutamaan menghafal Al Qur’an, banyak sekali hadits yang menjelaskannya, diantaranya: Pertama, Al Qur’an akan menemani orang yang menghafalnya taktala keluar dari kubur. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah Saw bersabda: “Pada hari kiamat nanti, Al Qur’an akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Qur’an akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: “Apakah anda mengenalku?”. Penghafal tadi menjawab; “saya tidak mengenal kamu.” Al Qur’an berkata; “saya adalah kawanmu, Al Qur’an yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Qur’an tadi diberi kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: “kenapa kami di beri dengan pakaian begini?”. Kemudian di jawab, “karena anakmu hafal Al Qur’an. “Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi di perintahkan, “bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya.” Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil).

Kedua, Al Hakim meriwayatkan hadits yang menunjukkan bahwa para pembelajar dan penghafal al Qur’an kelak di hari kiamat akan mendapatkan pakaian dari cahaya. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikanlah mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.”

Ketiga, Allah tidak akan menyiksa hati orang yang menghafal Al Qur’an. Rasulullah Saw bersabda: ”Bacalah Al Qur’an karena Allah tidak akan menyiksa hati orang yang hafal Al Qur’an. Sesungguhanya Al Qur’an ini adalah hidangan Allah, siapa yang memasukkanya ia akan aman. Dan barangsiapa yang mencintai Al Qur’an maka hendaklah ia bergembira.”

Keempat, orang yang menghafal Al Qur’an akan mendapatkan keistimewan dari Allah Swt. Dari Anas ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai ‘keluarga’ yang terdiri dari manusia.” Kemudian Anas berkata lagi, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: “Ia itu ahli Qur’an (orang yang membaca atau menghafal Al- Qur’an dan mengamalkan isinya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.”

Tips Menghafal Al Qur’an

Hal yang mesti dilakukan pertama kali saat kita mau menghafalkan Al Qur’an adalah memperbaiki niat, tujuan dan bersungguh-sungguh menghafal Al-Quran hanya karena Allah Swt dan mengharap keridhaan-Nya. Tidak ada pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Quran dan menghafalnya karena tujuan keduniaan, misalnya karena riya’ atau sum’ah (ingin didengar orang), yang bakal menjerumuskan pelakunya kepada dosa.

1. Dorongan dari diri sendiri, bukan karena terpaksa. Ini adalah asas bagi setiap orang yang berusaha untuk menghafal Al Qur’an. Sesungguhnya siapa yang mencari kelezatan dan kebahagiaan ketika membaca Al Qur’an maka dia akan mendapatkannya.

2. Membenarkan ucapan dan bacaan. Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendengarkan
dari orang yang baik bacaan Al-Qur’annya atau dari orang yang hafal Al-Qur’an. Rasulullah Saw sendiri mengambil Al-Qur’an dari Jibril As secara lisan. Setahun sekali pada bulan Ramadhan secara rutin Malaikat Jibril menemui beliau untuk murajaah (mengecek) hafalan beliau. Pada tahun Rasulullah Saw diwafatkan, Jibril menemui beliau sampai dua kali. Para shahabat juga belajar Al-Quran dari Rasulullah secara lisan. Demikian pula generasi-generasi terbaik setelah mereka. Pada masa sekarang dapat dibantu dengan mendengarkan kaset-kaset murattal yang dibaca oleh qari’ yang baik dan bagus bacaannya. Wajib bagi penghafal Al Qur’an untuk tidak menyandarkan kepada dirinya sendiri dalam hal bacaan Al Qur’an dan tajwidnya.

3. Membuat target hafalan setiap hari. Misalnya menargetkan sepuluh ayat setiap hari atau satu halaman, satu hizb, seperempat hizb atau bisa ditambah/dikurangi dari target tersebut sesuai dengan kemampuan. Yang jelas target yang telah ditetapkan sebisa mungkin untuk dipenuhi.

4. Membaguskan hafalan. Tidak boleh beralih hafalan sebelum mendapat hafalan yang sempurna. Hal ini dimaksudkan untuk memantapkan hafalan di hati. Dan yang demikian dapat dibantu dengan mempraktekkannya dalam setiap kesibukan sepanjang siang dan malam.

5. Menghafal dengan satu mushaf. Hal ini dikarenakan manusia dapat menghafal dengan melihat sebagaimana bisa menghafal dengan mendengar. Dengan membaca/melihat akan terbekas dalam hati bentuk-bentuk ayat dan tempat-tempatnya dalam mushaf. Bila orang yang menghafal Al-Quran itu merubah/mengganti mushaf yang biasa ia menghafal dengannya maka hafalannya pun akan berbeda-beda pula dan ini akan mempersulit dirinya.

6. Memahami adalah salah satu jalan untuk menghafal. Di antara hal-hal yang paling besar/dominan yang dapat membantu untuk menghafal Al-Quran adalah dengan memahami ayat-ayat yang dihafalkan dan juga mengenal segi-segi keterkaitan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.

Oleh sebab itu seharusnyalah bagi penghafal Al-Quran untuk membaca tafsir dari ayat-ayat yang dihafalnya, untuk mendapatkan keterangan tentang kata-kata yang asing atau untuk mengetahui sebab turunnya ayat atau memahami makna yang sulit atau untuk mengenal hukum yang khusus. Ada beberapa kitab tafsir yang ringkas yang dapat ditelaah oleh pemula seperti Tafsir Jalalain. Setelah memiliki kemampuan yang cukup, untuk meluaskan pemahaman dapat menelaah kitab-kitab tafsir yang berisi penjelasan yang panjang seperti Tafsir Ibnu Katsier dan Tafsir Ath-Thabari. Wajib pula menghadirkan hatinya pada saat membaca Al-Quran.

7. Tidak pindah ke surat lain sebelum hafal benar surat yang sedang dihafalkan. Setelah sempurna satu surat dihafalkan, tidak sepantasnya berpindah ke surat lain kecuali setelah benar benar sempurna hafalannya dan telah kokoh dalam dada.

8. Selalu memperdengarkan hafalan (disimak oleh orang lain). Orang yang menghafal Al Qur’an tidak sepantasnya menyandarkan hafalannya kepada dirinya sendiri. Tetapi wajib atasnya untuk memperdengarkan kepada seorang hafidz atau mencocokkannya dengan mushaf. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan kesalahan dalam ucapan, atau syakal ataupun lupa.

Banyak sekali orang yang menghafal dengan hanya bersandar pada dirinya sendiri, sehingga terkadang ada yang salah/keliru dalam hafalannya tetapi tidak ada yang memperingatkan kesalahan tersebut.

9. Selalu menjaga hafalan dengan murajaah. Rasulullah Saw bersabda, “Jagalah benar-benar Al-Quran ini, demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, Al-Quran lebih cepat terlepas daripada onta yang terikat dari ikatannya.” Maka seorang yang menghafal Al-Quran bila membiarkan hafalannya sebentar saja niscaya ia akan terlupakan. Oleh karena itu hendaknya hafalan Al-Quran terus diulang setiap harinya. Bila ternyata hafalan yang ada hilang dalam dada tidak sepantasnya mengatakan: “Aku lupa ayat (surat) ini atau ayat (surat) itu.”Akan tetapi hendaklah mengatakan: Aku dilupakan.

10. Bersungguh-sungguh dan memperhatikan ayat yang serupa. Khususnya yang serupa/hampir serupa dalam lafadz, maka wajib untuk memperhatikannya agar dapat hafal dengan baik dan tidak tercampur dengan surat lain.

11. Mencatat ayat-ayat yang dibaca/dihafal. Ada baiknya penghafal Al Qur’an menulis ayat-ayat yang sedang dibaca/dihafalkannya, sehingga hafalannya tidak hanya di dada dan di lisan tetapi ia juga dapat menuliskannya dalam bentuk tulisan. Berapa banyak penghafal Al-Quran yang dijumpai, mereka terkadang hafal satu atau beberapa surat dari Al-Quran tetapi giliran diminta untuk menuliskan hafalan tersebut mereka tidak bisa atau banyak kesalahan dalam penulisannya.

12. Memperhatikan usia yang baik untuk menghafal. Usia yang baik untuk menghafal kira-kira dari umur 5 tahun sampai 25 tahun. Wallahu a’lam dalam batasan usia tersebut. Namun yang jelas menghafal di usia muda adalah lebih mudah dan lebih baik daripada menghafal di usia tua. Pepatah mengatakan: Menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air.

Hal-Hal yang Menghalangi Hafalan

Setelah kita mengetahui beberapa kaidah dasar untuk menghafal Al-Quran maka sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui beberapa hal yang menghalangi dan menyulitkan hafalan agar kita dapat waspada dari penghalang-penghalang tersebut. Diantaranya:
1. Banyaknya dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat akan melupakan hamba terhadap Al-Quran dan terhadap dirinya sendiri. Hatinya akan buta dari dzikrullah.
2. Tidak adanya upaya untuk menjaga hafalan dan mengulangnya secara terus-menerus. Tidak mau memperdengarkan (meminta orang lain untuk menyimak) dari apa-apa yang dihafal dari Al-Quran kepada orang lain.
3. Perhatian yang berlebihan terhadap urusan dunia yang menjadikan hatinya tergantung dengannya dan selanjutnya tidak mampu untuk menghafal dengan mudah.
4. Berambisi menghafal ayat-ayat yang banyak dalam waktu yang singkat dan pindah ke hafalan lain sebelum kokohnya hafalan yang lama. Kita mohon pada Allah Swt semoga Dia mengkaruniakan dan memudahkan kita untuk menghafal kitab-Nya, mengamalkannya serta dapat membacanya di tengah malam dan di tepi siang.

Rabu, 09 Maret 2011

" Memilih Teman "

Pandai Memilih Teman yang Bisa Membawa kita ke Surga
Pertemanan (friendship) merupakan sebuah makna signifikan yang mesti ditarsirkan ulang. Makna dari “teman baik” berbeda dari satu orang ke yang lainnya. Sebagian orang meyakini bahwa teman baik adalah seseorang yang dapat dipercaya dan menjadi tempat untuk menceritakan semua rahasia. Sementara yang lain mendefinisikannya sebagai seseorang yang setia menemani baik ketika sedih maupun bahagia.
Kendati opini tentang definisi teman bervariasi, namun semuanya relatif benar. Dan jika kita meletakkan berbagai pandangan itu bersama-sama, maka semuanya bisa membentuk sebuah definisi sebenarnya tentang teman yang baik. Namun sejatinya masih terdapat sebuah makna signifikan dan peran dari sahabat baik yang sangat penting dalam perspektif Islam. Yaitu seseorang yang membantu kita untuk lebih dekat kepada Allah, membuat kita menjadi lebih patuh dan taat kepada perintah dan ajaran-Nya, serta memberi keuntungan positif untuk umat.
Kriteria Teman Baik Menurut Islam
Jika demikian, apa sih sebenarnya kriteria teman yang baik dalam Islam? Pikirkan sejenak tentang teman-teman kalian, dan biarkan saya bertanya, “Bagaimana kalian memilih teman? Apa peran teman-teman dalam kehidupan kalian? Apakah teman hanya semata-mata untuk pergi bareng dan bersenang-senang?” Jika kalian mengamini semua pertanyaan di atas, maka ada baiknya berpikir ulang dan mencoba untuk memahami makna serta peranan teman yang shaleh. Teman bukan sekadar seseorang yang bisa diajak untuk menikmati waktu bersama. Peranan teman ternyata lebih dalam dari sekedar berbagai sudut pandang yang dangkal.
Seorang teman bisa membantu kalian melakoni amalan-amalan hebat yang memicu pahala dan surga. Di sisi lain, teman juga bisa menghalangi dirimu dari perjalanan menuju surga. Pengaruh teman terhadap diri kalian sungguh luar biasa, bahkan melebihi anggota keluarga. Inilah mengapa begitu penting untuk berhati-hati memilih teman.
…Teman bukan sekadar seseorang yang bisa diajak untuk menikmati waktu bersama. Seorang teman bisa membantu kalian melakoni amalan-amalan hebat yang memicu pahala dan surga…
Hal-hal penting yang harus kalian pikirkan ketika memilih teman adalah kedekatan mereka kepada Allah. Kalian bisa tahu kedekatan tersebut bukan hanya dari penampilan mereka. Tapi juga melalui tingkah laku, tabiat, akidah, dan tindak-tanduk mereka.
Teman yang sepanjang waktunya memikirkan bagaimana caranya menggapai pahala, bisa dekat dan menggapai keridhaan Allah melalui tindakannya adalah teman yang bisa kalian percaya. Jalinlah persahabatan dengannya.
Jika kalian tidak shalat, tidak pernah berpuasa, gemar bergosip, atau kalian tidak memiliki peran aktif dalam masyarakat, maka sudah seharusnya kalian memiliki teman-teman yang mampu memperbaiki perilaku dan sikap kalian menjadi lebih baik. Alangkah buruknya jika kita memiliki teman yang justru memperburuk moral, sikap, dan bahkan akidah kita.
Karena teman-teman berperangai buruk bisa mendorong kalian untuk melakukan tindakan-tindakan yang buruk juga. Berbohong, merokok, kecanduan narkoba, dan bahkan berzina adalah hal-hal yang merupakan hasil buruk dari teman-teman yang berperangai buruk. Seorang teman mengatakan, “Teman-teman memiliki dampak nyata terhadap diri seseorang, dan bahkan mereka bisa mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang.”
Sementara itu, teman-teman yang shaleh bisa memberikan pengaruh positif bagi kehidupan kalian; membuat hidup menjadi lebih baik dunia dan akhirat. Sebagai contoh, teman yang memiliki aktivitas dalam derma bisa mendorong kalian untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatannya. Hal demikian lebih baik daripada kalian menghabiskan waktu melakukan hal-hal tidak bermanfaat atau sesuatu yang haram bersama teman-teman berkelakuan keji. Teman-teman yang baik bisa menemani kalian untuk mengunjungi panti asuhan, menghadiri halaqah pembelajaran Al-Qur’an, atau menghabiskan waktu untuk hal-hal bermanfaat lainnya. Bahkan, selain bermanfaat, semua itu juga bernilai pahala di sisi Allah.
…Sementara itu, teman-teman yang shaleh bisa memberikan pengaruh positif bagi kehidupan kalian; membuat hidup menjadi lebih baik dunia dan akhirat…
Bahkan dalam kondisi penuh keceriaan dan kegembiraan pun, segala sesuatunya bisa berbeda jika kita lakukan bersama teman yang baik. Dia senantiasa mengingatkan kalian untuk selalu memperbarui niat karena Allah di mana pun dan kapan pun. Selain itu, teman yang baik senantiasa mendorong kalian untuk menjaga harga diri atau menjaga ibadah-ibadah yang dianjurkan, sehingga keindahan Islam selalu terukir di hati kalian.
Hal ini terjadi dengan Iman Asy-Syarif, seorang muslimah berkewarganegaraan Mesir berusia 25 tahun. Iman melakukan perjalanan ke Denmark tak lama setelah kasus kartun Nabi Muhammad merebak, untuk mengubah citra buruk Islam di sana. Apa yang mendorong Iman untuk melakukan sesuatu demi memperbaiki citra muslim?
Iman menerangkan, “Salah seorang teman saya mendorong saya untuk melakukan sesuatu demi umat. Sejak itu mulailah saya membaca banyak bacaan tentang Islam. Lalu saya ambil bagian untuk mengenalkan Islam kepada orang-orang non-muslim. Sejujurnya, saya tidak bisa mengenyampingkan peran teman yang telah membantu saya untuk melakukan hal-hal positif.”
Jelas, dengan teman-teman yang baik dan shaleh, kalian bisa melakukan hal-hal positif yang menguntungkan Islam dan kaum muslim. Kalian pun menjalani kehidupan yang bebas dari egoisme, kesedihan, kebencian, dan kegelisahan yang terjadi jika berteman dengan teman-teman yang buruk.
Kalian mungkin tidak merasakan dampak langsung dari teman-teman terhadap diri kalian. Tapi jika kalian mau berpikir secara lebih dalam, kalian akan mendapatkan bahwa teman memiliki pengaruh yang dahsyat, kendati kalian mengklaim bahwa kalian memiliki karakter dan kepribadian kuat. Inilah mengapa kalian mesti memilih teman secara bijak, karena teman bisa mengubah hidup kalian secara keseluruhan, baik positif maupun negatif.
Karena alasan demikian, Nabi Muhammad pernah bersabda, “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Dari Anas, dia menuturkan, Rasulullah SAW bersabda, ”Dan perumpamaan teman duduk yang baik itu bagaikan penjual minyak wangi kasturi, jika minyak kasturi itu tidak mengenaimu, maka kamu akan mencium bau wanginya. Dan perumpamaan teman duduk yang jelek adalah seperti tukang pandai besi, jika kamu tidak kena arangnya (percikannya), maka kamu akan terkena asapnya.” (HR. Abu Dawud).